[ X ] Close

Kamis, 10 Februari 2011

'Pelacur di New York Dapat 25 Persen Pelanggan dari Facebook'

TEMPO Interaktif, Jakarta -  Para pelacur di Kota New York kini menjajakan jasanya melalui situs jejaring sosial Facebook setelah situs iklan Craiglist menutup layanan Erotic Services tahun lalu. Bahkan, para pelacur tersebut mendapatkan 25 persen pelanggannya lewat Facebook.

Hal tersebut diungkapkan oleh seorang profesor sosiologi dari Columbia University, Sudhir Venkatesh. Dalam studinya yang dirilis di Wired Magazine, Venkatesh menganalisis trend profesi pelacur terutama di New York.

"Sebelum penutupan (Craiglist) seksi layanan untuk dewasa, pelacur sudah menggunakan Facebook. Sebanyak 83 persen memiliki akun Facebook dan saya memperkirakan di akhir 2011, Facebook bakal menjadi tempat favorit untuk mendapatkan pelanggan," tulis Venkatesh dalam Wired Magazine.

Menurut Venkatesh, kemajuan teknologi juga dimanfaatkan para pelaku di industri untuk orang dewasa ini. Dengan adanya BlackBerry, situs jejaring sosial seperti Facebook, para pelacur bisa bekerja tanpa harus menjajakan diri di jalan-jalan. Mereka bahkan tidak lagi menggunakan jasa germo.

Juru bicara Kepolisian Kota New York, Paul Browne, enggan mengiyakan pendapat Venkatesh. "Sulit untuk mengukur aktivitas yang luas seperti itu," ujarnya kepada FoxNews.com. "Memang bisa diasumsikan seperti perusahaan-perusahaan lain saat ini, internet mempengaruhi sebuah usaha yang biasanya tidak menggunakan itu. Tetapi berapa besar persentase di dalam sebuah perdagangan gelap, sangat-sangat sulit disimpulkan."

Brown setuju ada sebagian pelacur yang berpindah menjajakan layanannya melalui internet.

Dalam studi yang dilakukan Venkatesh, tidak dijelaskan bagaimana pelacur dan penggunanya berhubungan di Facebook karena tidak ada seksi khusus orang dewasa di Facebook. Pencarian untuk kata "escorts (menemani)" memang menghasilkan beberapa rujukan, tetapi tidak menunjuk ke individu-individu.

Kepolisian Kota New York sendiri bergantung dengan laporan masyarakat mengenai tindakan melanggar hukum yang berlangsung secara diam-diam seperti pelacuran. Jadi untuk transaksi melalui internet yang tidak ada pemantaunya, Kepolisian Kota New York sulit menemukan bukti dan menindaknya. Karena itu, semua tergantung kepada Facebook.

Facebook sendiri tidak memiliki kebijakan khusus terkait pelacuran. Tetapi, Facebook menentang segala tindakan ilegal. Juru bicara Facebook Andrew Noyes mengatakan, "Kami akan mencabut materinya, memblokir akunnya, dan mungkin mengambil tindakan lebih lanjut termasuk membawa ke ranah hukum tindakan ilegal."

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 Bima Yudha
Theme by Yusuf Fikri